NILAI
NILAI BUDAYA
Mengangkat nilai-nilai budaya Bali
yang universal dalam kaitannya dengan Pola Ilmiah Pokok Kebudayaan sebagai Pola
Ilmiah Pokok Universitas Udayana merupakan hal yang wajar, karena pulau Bali
telah dikenal oleh masyarakat dunia sebagai salah satu tujuan wisatawan
terbaik. Diperkenalkan dan dikajinya nilai-nilai budaya Bali yang
universal kiranya akan dapat memberikan sumbangan dalam pembentukan insan
akademik ilmuwan yang berbudaya dan budayawan yang ilmuwan. Nilai-nilai budaya
tidak terlepas dengan pengaruh Agama Hindu terhadap kebudayaan Bali. Hal ini
sejalan dengan wacana Agama Hindu sebagai jiwa kebudayaan Bali. Hubungan pulau
Bali dengan dunia luar bukanlah hal yang baru. Tentang hubungan Bali dengan
dunia luar, khususnya dengan India, Prof. Dr. I Wayan Ardika,MA (1997:62)
menyatakan bahwa hubungan itu sudah dikenal sejak zaman prasejarah, yakni
dengan ditemukannya fragmen gerabah India yang mungkin berasal dari awal abad
Masehi atau sekitar 2.000 tahun yang lalu.Berita tertua dari bangsa asing
lainnya berasal dari orang-orang Cina. Di dalam kitab sejarah dinasti T’ang
Kuna (buku 197, 2b, 618-908 Masehi), disebutkan antara lain bahwa Ho-ling
terletak di kepulauan di lautan sebelah selatan. Di sebelah timurnya terletak
P’o-li, yang menurut Pelliot P’o-li adalah Pulau Bali dan di sebelah baratnya
adalah To-po-teng, di sebelah utara adalah Chen-la (Kamboja) dan di sebelah
selatannya lautan. Di dalam sejarah dinasti T’ang Baru (buku 222.2, 3b)
disebutkan bahwa Ho-lingdisebut juga Shë-p’o dan letaknya di sebelah
selatan. Di sebelah timurnya P’o-li (Bali), di sebelah baratnya To-p’o-tëng
(Sumatra). Di selatannya lautan, sedangkan di sebelah utaranya Chën-la
(Kamboja) perjalanan ke P’o-li dari Canton menempuh waktu kira-kira dua bulan.
Di dalam kitab Chu-fan-chih bagian Suchi-tan, Bali disebut dengan nama Ma-li
(Sartono, 1976:133-134).
Demikian pula keterangan
tentang kemuliaan Gunung Agung, yang di Bali disebut juga To Langkir
(yang menjulang tinggi) atau di dalam bahasa Sanskerta disebut Udaya Parvata
(gunung yang tinggi) diyakini sebagai bagian dari Pegunungan Mahàmeru (yang
pada zaman dahulu juga disebut Úiúira Parvata). Nama Udaya Parvata ini
sudah diungkapkan di dalam susastra Sanskerta Ràmàyaóa, pada bagian
Kiûkióðha Kàóða, karya agung àdikavi Mahàrûi Vàlmìki, sebagai sthana para Dewa
(Misra, 1989:VI). Hubungan antara India dengan Bali diungkapkan pula oleh
Sarkar (Phalgunadi, 1991:33) termuat dalam kitab Båhatsaýhità dan
Kathàsaritsàgara yang membuktikan sudah adanya kontak antara Bali dengan India
dalam bidang perdagangan dan agama. Kedua buku di atas menyebutkan nama Bali
sebagai Nàrikeladvìpa. Menurut Damais yang dimaksud dengan Bhùmi Nàrikela
adalah Pulau Bali yang menurut anggapannya dapat dibuktikan dari sejumlah
prasasti yang ditemukan di pulau ini. Banyak prasasti Bali yang menyebutkan
Bali sebagai pulau kelapa. Prasasti Poh (tahun 905 Masehi) menyebutkan “vanua
ri rùmakûan riò nyù” yang berarti pulau kelapa. Menurut Weber (1974:202, 213)
Båhatsaýhità ditulis oleh Varamihira pada abad ke-5 atau ke-6 Masehi dan
Kathàsaritsàgara ditulis oleh Somadeva pada abad ke-11 Masehi.Tidak dapat
dihindari bahwa pengaruh Agama Hindu dan budaya India di Bali demikian
besarnya, hal ini dibuktikan dari berbagai peninggalan purbakala seperti diungkapkan
oleh Swellengrebel (1960:17), yaitu: sumber utamanya adalah prasasti-prasasti
yang dikeluarkan oleh para raja yang banyak jumlahnya baik yang tertulis pada
batu maupun pada logam (tembaga). Prasasti-prasasti itu menceritakan para raja
yang memerintah dan para menterinya, hubungannya dengan administrasi
pemerintahan pusat dan orang-orang di desa-desa, peraturan di bidang keagamaan,
aturan yang berhubungan dengan pengairan, perpajakan, dan sebagainya. Sumber
lainnya adalah peninggalan purbakala, arca-arca dan artifak-artifak.
Berdasarkan ungkapan Swellengrebel di atas maka kehidupan keagamaan dapat
dikaji melalui sumber-sumber tersebut di atas. Di samping itu adalah
sumber-sumber teks berupa berbagai manuskrip (lontar) yang cukup banyak
jumlahnya. Nilai-nilai atau ajaran Agama Hindu yang tertulis itu terekspresi
dalam pola pikir, perilaku individu dan sosial, dan juga dalam bentuk material
seperti pura dengan beraneka bangunan suci di dalamnya, tata letak rumah, desa
pakraman dan sebagainya.Di samping nilai budaya Bali itu bersumber pada ajaran
Agama Hindu, juga disebabkan oleh kristalisasi nilai-nilai yang telah ada
sebelumnya, atau juga karena pengaruh globalisasi, terjadi penyerapan
nilai-nilai budaya global.
Mata Pencaharian
Mata pencarian penduduk beraneka ragam yang meliputi pekerjaan sebagai petani, pengerajin, pedagang dan berbagai jasa khususnya bidang kepariwisataan. Pertanian merupakan mata pencarian pokok masyarakat dan sebagian besar masyarakat bali adalah petani. Jenis pertanian meliputi pertanian sawah dan perkebunan. Didalam system pertanian di bali subak memegang peranan yang sangat penting. Saat ini di Bali terdapat sekitar 1.482 subak dan subak abian sekitar 698.Subah merupakan salah satu lembaga tradisional yang merupakan satu kesatuan para pemilik atau penggarap sawah yang menerima air irigasi dari satu sumber air atau bendungan tertentu. Subak merupakan satu kesatuan ekonomi, sosial dan keagamaan. Tugas warga subak pada umumnya adalah mengatur pembagian air, memelihara dan memperbaiki sarana irigasi, melakukan pembrantasan hama, melakukan inovasi pertanian dan mengkosepsikan serta mengaktifkan upacara.
Dari beberapa prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Bali kuna dapat diketahui mengenai kehidupan dan mata pencaharian masyarakat Bali kuna. Umumnya penduduk pulau Bali sejak zaman dahulu hidup terutama dari bercocok tanam. Dalam prasasti Songan tambahan salah sebuah prasasti dari raja Marakata ada disebutkan istilah-istilah yang berhubungan dengan cara mengolah sawah dan menanam padi yaitu : amabaki, atanem, amantum, ahani, anutu. Proses penanaman padi pada waktu itu disebut sebagai berikut, yaitu dimulai dengan mbakaki (pembukaan tanah), kemudian mluku (membajak tanah), tanem (menanam padi), mantum (menyiangi padi), ahani (menuai padi) dan nutu (menumbuk padi).
Dari keterangan di atas jelaslah bahwa pada masa pemerintahan Raja Marakata, bahkan mungkin pula pada masa sebelumnya, pertanian khususnya pengolahan tanah di Bali telah maju. Hidup berkebun juga telah umum pada masa itu. Macam-macam tanaman yang merupakan hasil perkebunan antara lain adalah nyu (kepala), kelapa kering (kopra), hano (enau), kamiri (kemiri), kapulaga, kasumbha (kesumba), tals (ales, keladi), bawang bang (bawang merah), pipakan (jahe), mula phala (wartel dan umbi-umbian lainnya), pucang (pinang), durryan (durian), jeruk, hartak (kacang hijau), lunak atau camalagi (asam), cabya (nurica), pisang atau byu, sarwaphala (buah-buahan), sarwa wija atau sarwabija (padi-padian), kapas, kapir (kapuk randu), damar (damar).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar